Sabtu, 22 Desember 2012

Ibuku Sayang

Inilah yang aku sebut sebagai kasih. Ketika tangan ibu yang penyayang menolak terentang. Bahkan ia cepat-cepat berangkat ke pasar di hari aku meninggalkan rumah untuk melanglang. Selalu ada alasan bagi ibu untuk menghilang sebelum pesawatku terbang. Ya, ibu menolak memperlihatkan airmata saat aku berangkat ke pulau seberang.

Bukan hal mudah untuk memahami tindakan ibu yang begitu. Yang seperti baik-baik saja melihat anak-anaknya pergi meninggalkan rumah satu-satu. Anak-anaknya yang selalu berjanji untuk pulang setiap minggu, meski belum tentu. Aku kerap mendapati rindu terserak di mana-mana, di setiap kata dan cerita yang canda tawanya beku seperti batu. Di mataku, ibu selalu sama, tak pernah pandai berdamai dengan rindu, jarak serta waktu.

Untungnya kasih ibu sepanjang jalan, meski kasihku masih sepanjang galah. Ibu tak menjadikan itu sebagai masalah. Kata ayah, senyum ibu rekah. Ketika kartu pos dari kami, anak-anaknya, sampai ke rumah. Ayah meminta ibu berjanji, untuk memeliharanya –senyum yang rekah— hingga pesawat kami menjejak tanah. Dan ketika saat itu tiba, tangan ibuku yang penyayang, yang dulunya menolak terentang, akan menyambut kami dengan hangat dan ramah.

Ya, kan, Bu?

Mother loves me. Vice Versa ~ ManDewi

–Semarang, 201212-

Puisi Karya @ManDewi -http://takhanyacinta.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar