Tampilkan postingan dengan label #MenolakLupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #MenolakLupa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 April 2014

Semenjak Perpisahan

Sejak perpisahan dipelabuhan yang tanpa senja romantis dan cium hangat Aku telah bersepakat dengan diriku melawan lupa Mengakarkan ingatan sedalam-dalamnya tentang musim semi yang selalu berhasil kau mekarkan sepanjang tahun Dimana kita tak lagi dua melainkan satu Dimana aku dan kamu tersesat menjadi kita dan tak lagi ingin kembali

Tahun-tahun akan segera berlalu Lantas kelabu melemahkan ingatan juga keyakinan Apakah kita akan tetap kita? Kamu tetap kamu dan aku tetap aku Yang saling mengagumi bahkan kala senja di mata telah menjelma purba

Entah diri dan ingatanmu sekarang Namun hingga kini potongan-potongan kenangan tentangmu Membuat diriku menuju ke satu muara

:utuh

-Ambon, 3 April 2014-

Puisi karya @didochacha - http://mruhulessin.wordpress.com

Tentangmu, Hatta

Bung, Sahajamu perlahan terbaca dari sebalik bingkai lensa Mereka bilang, kau, “Om Kacamata” sebagian lagi menyandangkan gelar, “Gandhi of Java”

Tulusmu terbingkai di sana menjadi sahabat bagi sesama Tiada sekat budaya, ras, geografis, atau agama semua kau rengkuh, seperti sahabat sejatinya

Tiada lebih kau harap, satu asa yakni bangsamu merdeka Berdikari dengan segala pusaka tersimpan di bumi Nusantara

Bung, Teguhmu perlahan terbaca dari selarik janji setia, “Takkan saya beristeri, jika Indonesia belum merdeka” Hatimu masih terpaut pada revolusi Jiwamu masih tertambat pada pengokohan organisasi Begitulah engkau berjuang, berdiplomasi merentang tanpa jeda, tanpa henti

Bung, Kau, sosok muslim sejati begitu cinta kepada keempat isteri: Indonesia, rakyatnya, buku, dan Rachmi

Tiada kami lupa padamu, kekasih hati Separuh Dwi Tunggal yang memelihara cinta suci seutuhnya … untuk kami, untuk negeri Maka, biarkan jiwamu tetap lekat di hati seperti butiran hujan, sumber inspirasi Meski waktu telah bergulir terlampau jauh takkan lekang sejarahmu, takkan luruh

-kaki Merapi, 3 April 2014, jelang tengah malam-

Puisi karya @phijatuasri - http://lariksyair.blogdetik.com

Teriak Dada

Ada yang terlupa, pada satu masa di kedalaman dada.

Ada yang tersiksa, kala ingatan meraja perjuangan tokoh bangsa.

Ada yang bungkam dan hilang, ditelan perubahan zaman meski cabikannya terbayang.

Ada yang terlupa, tersiksa, bungkam, dan hilang bagai pengkhianatan sedang dalam dada berteriak penolakan.

Puisi karya @Susy_SmileKitty - http://luphly-shie.blogspot.com

Elegi Lupa

Kadang aku membayangkan kenangan mendadak lupa, hingga tak ada yang perih saat membuka atau terlampau girang kala mengulang.

Tetapi setiap orang punya ingatan dan ingatan tak pernah lupa.

Lalu aku membayangkan ingatan tiba-tiba lupa, agar kemarin dan waktu sebelumnya ikut dikubur masa.

Tetapi setiap orang punya perasaan dan perasaan sanggup menjangkau apa saja

Lalu aku membayangkan perasaan seketika lupa dan hati bukan lagi timbangan sempurna.

Tetapi setiap orang punya engkau yang selalu hadir di setiap langkah dan jeda.

Lalu aku membayangkan kenangan, ingatan, dan perasaanku tak punya engkau. Tetapi aku punya waktu

Terus kubayangkan tak punya waktu. Lalu aku mati.

Untuk siapa saja yan telah berbuat baik bagi bangsa dan negara. Besar-keclinya upaya, mereka telah mengubah keluh menjadi peluh yang berharga.

Makassar, 2013

Puisi karya @Botsun - http://blackbox-botsun.blogspot.com

Lumpur

Dahulu kami di sana — tak pernah lupa orangtua, lapangan bermain, rumah, sekolah.

Di tanah yang terdahulu — yang tak pernah sama lagi.

Sawah hijau menguning Ladang yang beraneka buah Kembang berwarna Kini satu kegelapan —riwayat yang cemar

Mulut dibungkam Mata dibutakan Kaki tangan dilumpuhkan Airmata adalah lendut membatu

29 Mei 2006 Sejak itu, Dia yang berkulit kuning di bawah langit mentega Sudah lupa Dikubur lumpurnya.

Puisi karya @_bianglala - http://pelangiaksara.wordpress.com

Mereka yang Tak Dikenal

Aspal hitam membentang Sepanjang jalan Anyer-Panarukan Tetes peluh dan darah telah tertuang Oleh mereka yang terlupakan

Mereka,telah meregang nyawa Lebih dari dua belas ribu jiwa Demi menggelar aspal jalan raya Perantara di pulau Jawa

Mereka, memang tak dikenal Mereka, bukan orang terkenal Tapi pengorbanan mereka akan tetap kekal Di seantero Mayapada, mereka tetap kekal

Jalan raya Anyer-Panarukan Bukan hanya sekedar jalan Penyambung hidup mereka yang bernafas Hingga nanti sampai di akhir batas

Bulaksumur, 03 April 2014

Puisi karya @MayHpt06 - http://mynameismaylia.wordpress.com

Percaya atau Tidak

Dengarkan atau tidak. Saat mereka bersua, menyuarakan hak-hak masyarakat. Apakah perlu dipercaya atau tidak? Semua bermain janji. Mengadu emosi yang sedikit menjadi aspirasi demokrasi. Sedangkan kita berdiam atau memilih. Entahlah. Kembali ke hati. Setiap rasa dan pikiran digantungkan pada tiap-tiap harapan. Kita, menolak lupa. Dia masih ada dan setia pada negara. Mengabdi demi bangsa. Meretas kemiskinan. Membudayakan budaya, dan segala hal yang mencintai bumi pertiwi. Percaya atau tidak. Hatiku masih bersandar pada jiwa-jiwa semestinya, apa adanya.

Medan, 03 April 2014

Puisi karya @WE_Dewie - http://wedewie.blogspot.com

Memulai Orasi

Memulai menulis, hari ini.

Mungkin menulis puisi, seperti puisi

Seperti dulu, sebuah orasi dimulai, dulu dilukai

Kini mengira-ngira, mengawali. Satu diksi, Lalu menebak satu kata lagi, berikut merangkai Berputar-putar di labirin ingatan berdaki.

Di mana kira-kira orasi diakhiri?

“Lupa,” katamu sembari mengedik bahu.

Sebelum mereka pergi —berkhianat lagi Terakan. Jangan lupa sertakan satu penanda serupa lebam di ujung kelingkingmu. agar menolak lupa.

Puisi karya @_bianglala - http://pelangiaksara.wordpress.com

Mengingat Kami

Kami tak menyebut diri sebagai pahlawan. Suara kami berasal dari rengekan anak-anak yang meminta susu dan baju baru. Kami orang-orang yang nasibnya lebih sering terapung dan hanyut menabrak-nabrak pinggiran sungai kotor penuh sampah dari tangan-tangan wakil kami.

Hidup jauh dari tubuh yang darahnya sama mengalir di tubuh kami adalah ketakutan yang menjadi ketaatan. Melangkah ke luar rumah dan masuk rumah lain yang tanahnya tak segembur tanah ladang di kampung. Kalian akan menemukan kami tersebar di seluruh bumi. Hidup dihajar nasib.

Kadang kami beruntung, tapi sering juga menunggu mati di tiang gantung. Saudara-saudara kami jauh takkan sanggup menempuh. Cuma doa-doa kalian yang jadi tangan pemeluk tubuh tanpa daya hukum.

Semoga tidak lagi ada tubuh gemetar meringkuk dengan bekas tampar, atau di sudut ruang basah penjara terkapar.

Pemimpin kami yang baik budi, kami masih ada jika kau sedikit lupa. Tolong kami dari nasib dingin, jangan cuma prihatin.

Kami tak menyebut diri sebagai pahlawan.

~ teras atas, 03 april 2014

Puisi karya @dzdiazz - http://aksaralain.blogspot.com

Rabu, 02 April 2014

Ibu Kami tak Punya Nurani

Orang-orang kelabakan

Takut anaknya tak lulus ujian

Orang-orang semakin edan

Mengusir mereka yang membongkar kebobrokan

Mereka bilang ibu kami tak punya nurani

Ibu Siami

Puisi karya @tan3ana - http://ucaaa.tumblr.com

Sendiri

Diam. Sunyimu hanya sepi. Temaram, Hingga waktu telah pagi.

Ia menolak untuk pergi. Menolak lupa tentang kekasihnya yang telah mati. Tertidur dengan memeluk wajah kekasihnya dalam bingkai. Ia tak ingin mati dan memilih sendiri.

Puisi karya @dyazafryan - http://dyazafryan.wordpress.com

Menepis Lalai Sang Penggerak

Hampir enam belas tahun berlalu

Keberadaanmu masih tak menentu

Aram-temaram kabar tentangmu

Hanya menyisakan luka pilu

Telah lama dicari

Telah lama dinanti

Ditelusuri tanpa henti

Tanpa hasil berarti

Menepis lalai Sang Penggerak

Meski sampai kini belum tersibak

Tak satupun misteri terkuak

Bagai lenyap tanpa jejak

Menepis lalai Sang Penggerak

Hingga tirai kan tersibak

Semua tanya pun terkuak

Menepis lalai Sang Penggerak

Bulaksumur, 02 April 2014

Puisi karya @MayHpt06 - http://mynameismaylia.wordpress.com

Kita Seperti Embun

Kenapa kau terus jejalkan

Sebuah rindu tanpa pertemuan

Kenangan yang berkarat dipikiranku

Menolak untuk lupa

Rasa jengah itu tak pernah sekalipun pergi

Memaksaku menulis bait demi bait

Ribuan puisi sepi

Dari segenggam hati

Untuk sepasang mata teduh

Kita…

Tidakkah kau rindu menyebutnya?

Pernahkah kau menolak lupa?

Pada kisah romantis

Sesingkat embun yang tak pernah mampu

Menolak untuk menguap

Puisi karya @GistiiRa - http://gradistie.wordpress.com

Dan Lalu

Kaki-kaki melangkah tidak menapak

Bicara saja disana, biar angin yang meniupnya

Mereka bilang bohong padahal iya

Mereka bilang jujur meski sulit dipercaya

Mengalir saja seperti air raksa diatas dahi

Tak tercium, tak berasa, tak bisa diduga

Terbawa arus mengalir ke hilir kembali ke hulu

Kemudian seperti itu

Begitu

Seterusnya

Rebahkan saja pikiran-pikiran kosong itu

Badanku sudah beku, pemikiranku menunggu

Teriaki saja kataku jika sudah datang waktu

Puisi karya @RGAgastya - http://rgagastya.tumblr.com