Tampilkan postingan dengan label Burning Giraffes and Telephone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burning Giraffes and Telephone. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2012

Burning Giraffes and Telephone

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone
can’t remember the timewithout recalling you
“i was angry when the giraffes are draping a beautiful lie on their neck.”
a girl screaming to the telephone mouth
that lie to her
like an evil in the middle of desert.

she cherish a betrayal
that come from the eye
— an eye with complex telephone cable case —
she doesn’t cry,
she believes that wind, fire, and time are her true friends.

the phone is ringing with thick smoke on its back
and the giraffes are screaming out the air,
the girl is smiling,
looking closely at their shoulder.

yes, time is burning giraffes and telephone
— not love.
can’t remember the timewithout recalling you still
 Puisi Karya @aa_muizz - http://butirbutirhujan.wordpress.com

Nyala sebagai Lupa

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone
tak ada yang perlu diingat
biar asap mengepul menjadi udara-udara
menjadi hirup sebagai hidup

seolah api adalah kemabukan
puan, rambutmu nyala-menyala di mataku
menghubung selayak telepon, memanggil tuannya luka
dan dadaku kotak penyangga tua renta

kuhabiskan waktu dengan membakar aku
kunyalakkan rindu supaya bersetubuh dengan telanjang ragu
demikianlah geming kubebaskan
maka denting tiba di kepolosan tutup mata

sisanya hanyalah lepuh menghitam
lalu mati sebagai arang yang tak dipulangkan

Puisi Karya @dzdiazz - http://aksaralain.blogspot.com

Perempuan (lain) Virtual

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone
Dia perempuanku lain

: kujumpainya bila peri malam menjentik bintang pada angkasa — meluntah lisan aksara rayuan

: jenjang lehernya menyimpan keindahan — hasrat mengecup sebatas layar maya

Pun dia ini perempuanku

: padanya pernah kutinggalkan junjungan tertinggi.
Menggilai aroma wangi tubuhnya — dulu bergelung rapat berpeluk denyar dada


ketika perempuanku cemburu

: nyalang — memerah matahari di tatapnya
Bertubi dendam mengiris nadi darah.


Para puan
Para perempuan
Padamu; padanya aku perempuan yang cinta

Puisi Karya @_bianglala - http://pelangiaksara.wordpress.com

Jarak yang Kau Buat

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone
pertengkaran kita masih hangat
benda berbunyi ini jadi saksinya
kau diam… aku diam
hanya deru napas kita yang terdengar
dan ini makin menyakitkan
bukan jarak .. tapi hati yang kau buat menjauh
tak ada indah sejak sapamu tak ada
jarak yang kau buat
buat ku bagai di neraca

Puisi Karya @hatijingga - http://hujanbulanmei.tumblr.com

Dunia Absurd

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone
Duniaku tidak hanya berisi kamu
Duniaku juga berisi rindu
dan hal-hal absurd lainnya

Kamu
Gurun pasir
Padang savana
Jerapah berleher jenjang
Semut rangrang
Mata nyalang
Tubuh ranum berkembang

Kamu
Kadang dekat
Kadang membuat sekat
Kadang memunggungi
Kadang mencari-cari

Duniaku tidak hanya berisi hal-hal absurd
Duniaku juga berisi rindu
dan kamu-kamu yang lainnya

- Semarang, 051212

Puisi Karya @ManDewi - http://takhanyacinta.wordpress.com

Ring... Ring...

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone


“Ring… ring… ring…”

“Hello?”
I hear nothing…
only my heart is beating slowly

“Ring… ring… ring…”

I pick up the phone again waiting for the one speaking
but I hear no one talking

“Ring… ring… ring…”

I let the phone singing the sad song
while I packing the luggage…

“Ring… ring… ring…”
No one hear the phone’s crying
I just left the house and burn the field…

Burning all of our memories
Burning the damned phone

“Ring… ring… ring…”
On the other part of world, in a telephone box you’re whispering…
“SORRY”

Puisi Karya @ara_damiril - http://apura.wordpress.com

Bermimpi

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone
: Julius
Kalau kau sakit hati dengan Tuhan
aku sakit hati dengan diriku sendiri


/1/
Di depan lukisan itu
kita sama-sama memesan sedikit waktu
dan sebuah kota dengan cahaya lampu
yang berhamburan di sepanjang jalan

/2/
O, Golgota

“Eli, Eli, lama sabakhtani?”

Leherku telah menjadi sepanjang 8 kaki
ketika mendung ingin mencium telingaMu
yang lebam dan koyak oleh bisik-bisik gaib
tapi mengapa Kau menundukan wajah
dan menanamkan api
pada punggungku?
(tumpukan kayu cedar
—dinding-dinding kuil daud yang repih oleh kesedihan)

“Aku haus!”

Mataku pelan-pelan
pasrah dalam pertemuan ini
berguguran hujan semasam anggur

Maria,
di kejauhan, kepergian tak bakal terbilang lagi

/3/
Kebahagiaan begitu sementara
dan kita masih akan percaya?

tut…tut….tut…….

Puisi Karya @_nears - http://retakkayu.wordpress.com

Hutan dan Kesetiaan

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone
Perempuan tua menekuni uban di kepala
Serupa awan menjauhi musim hujannya
Ada yang membakar pikiran yang ia rawat, ingatan demi ingatan
Hingga kerut dahi dan hitam alisnya menjadi legam
: Satu kenangan tentang hutan dan kesetiaan

“Jangan tunggu aku. Aku adalah hutan yang tak mampu kautundukkan,” kata suara di balik masa lalu, di bilik telepon itu
Muncul dari kesepian yang begitu purba
Menyeretnya ke batas nelangsa tak terkira
Menghisap apa saja. Melenyapkan setiap ramai pesta.

Setengah abad lalu, ketika usia belum melanjutkan penderitaan
Perempuan kecil dengan pesta ulang tahun yang teramat besar
Boneka jerapah dengan bulu di punuk dan pucuk kepala
Seperti awan
Putih. Ia menyebutnya jerasap
Ketinggian yang menghiasi diri dengan asap
Meraih setiap mimpi yang melebihi atap

Pesta mendadak sunyi
Kesepian menjadi-jadi
Perempuan tua menekuni uban jerasap
yang di kepala dan pikirannya terperangkap

Hutan menjadi hamparan tandus tak terurus
Di usia lanjut yang terhisap kesepian dan kesetiaan terus menerus
Di balik masa lalu dan bilik telepon tua itu
Sebuah suara berkali-kali menegur keriput kulit yang mulai membiru

“Jangan tunggu aku. Aku adalah hutan yang tak mampu kautundukkan.”

Cilandak, 041212

Puisi Karya @wajdiv - http://penawajdi.wordpress.com

Kehilangan

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone
Langit karamel abu-abu
Gurun pasir serupa daki
pada tengkuk para pasasir
Kau masih menunggu
sebuah suara
pada ujung gagang telepon tua.

Tubuhmu adalah kerinduan
yang meminta sebuah penebusan
Tubuhmu hanya ingin bersintuhan
dengan mata sendu yang meruntuhkan
sebuah hati batu berkepanjangan.

Kau mendengar langkah kaki mulai berdebam
di kejauhan
Beberapa jerapah tunggang langgang
membawa api dan sakramen penyucian

Tapi kau masih saja keluar masuk gagang telepon
Mencoba bercinta dengan kekasihmu di sana
Sedang dirimu mulai menjelma
menjadi gelombang suara
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Bunyi suara di telepon yang menjerat tubuhmu
tapi kau adalah orang yang percaya
bahwa jarak, perlahan, akan membebaskan cinta.

2012

Puisi Karya @kolasecerita - http://ampaiankata.wordpress.com

Aku (memang) butuh kamu

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone

Matamu bara, api menjalar setubuhi ragaku..
Lengan-lengan waktumu penghubung jarak terdekat menujuku yang setiap saat memikirkanmu..
Jangan terlalu sibuk dan mengacuhkanku, aku jadi abu rapuh jika luput dari perhatianmu..
Jangan tunggu aku hangus terbakar oleh kesabaranku..
Datanglah meski hanya sebuah sapa, perhatianmu selalu menjadi senyum di setiap luka hatiku..

Puisi Karya @warniwarnaku - http://warniwarnaku.tumblr.com

Burning Giraffes and Telephone

Lukisan Salvador Dali - Burning Giraffes and Telephone
Betapa jarak itu seperti halnya ladang gurun lengang yang tandus, sayang, 
Mampu membakar kepala-kepala sekawanan jerapah yang berlari-larian. 
Jerapah yang taklain ejawantah dari segenap asa yang tak bosan memanjangkan leher, dan lantas mendongakkan ke langit sebagai doa 
: harapan bagi sua yang tak kunjung tiba. 

Dan dari tubuhmu yang tak lekang dituakan waktu, 
Tubuh yang senantiasa menari dalam ingatanku yang nyalang, telanjang, hanya berbalut kata-kata rindu yang tipis; menutupi kaki-kaki jenjangmu menujuku. 
(kata-kata itu yang pada akhirnya menumbuhkan sulur-sulur tanya dari tungkai mataku) 

“Tidakkah kau rindu pada pendar mataku, sayang, mata yang justru lebih rewel dari bibirku, mengatakan betapa aku mencintaimu?” 

Sulur-sulur tanya itu semakin memanjang, membelit-belit tubuhmu dalam ingatanku. 

Ahh,...
Tetapi siapalah aku?
Menunggumu sampai musim bersua tiba.
Ah, siapalah aku?
Aku, aku hanya kotak-kotak kayu tempat kesahmu luruh,
tempat sejumput pelukan tumbuh menjadi buah-buah angan.
Aku hanya kotak kayu!
Rapuh, termakan rayap-rayap waktu. Menunggumu.
Sementara kau, entahlah di mana,
mungkin masih berdansa dengan jerapah-jerapah yang kau bakar kepalanya.

Puisi Karya @acturindra - http://senjasorepetang.wordpress.com