Tampilkan postingan dengan label Ode Buat Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ode Buat Kota. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 November 2012

Di Dinding Tua Kota Lama

– BBZ

Lusinan kata membentang di nyalang siang langit Semarang
Dari lorong-lorong tua juga lampu-lampu jalan kota lama yang serupa potongan-potongan piktograf terhampar kian nyata
:menceritakan sekelumit cerita pada sepasang mata kamera.
Waktu-waktu tandas lekas berlalu, sementara kisah-kisah baru menggamit lekang kenang-kenangan bisu.

Dalam ingatan yang terekstrapolasi — tentang dinding-dinding retak, kolam-kolam suram, juga pada jalan-jalan yang tak lagi rapi.
Ada yang masih ingin tereja di lembaran masa; guratan-guratan agung, mematungkan segenap peristiwa-peristiwa elusif pada lensa kamera, memungut spektrum-spektrum pasi di gedung-gedung tua yang belum bosan berdiri.

Puisi Karya @acturindra -- http://senjasorepetang.wordpress.com

Aku dan Kamu Lahir di Kota Ini

Aku teringat pada sebuah kota yang mengingatkanku akan kamu
Mengingatkan kelahiran kita

Pikiranku tertumbuk pada suatu
sudut taman yang berangsur sepi
Tanahnya berlubang, pohonnya tak rindang lagi
Di salah satu sudutnya
rumahmu yang megah berdiri, sendiri

Aku teringat pada suatu sisi yang lain
Senja mengubur hari
Langit seperti berapi
Pasir pantai menjadi saksi
Lengan yang saling mengait
Bahu yang menjadi sandaran lelah dan sakit

Aku teringat pada sebuah kota
Yang jalanannya menjadi kawan
motor-motor sewaan yang kita kendarai bersama
Kota tua, stasiun, Tugu Muda

Aku teringat pada sebuah kota
yang bukan kota kelahiranku
Bukan pula kota kelahiranmu

Kota ini adalah tempat di mana cinta dibesarkan
Hingga tumbuh menjadi rasa yang kuat namun ramah
Kokoh namun sederhana
Ramai namun hanya milik kita berdua

Aku teringat pada sebuah kota
yang aku beri nama Sekarang
Tetapi kamu lebih suka menyebutnya Semarang

Semarang, kota(ku) Sekarang.

- Semarang, 291112


Puisi Karya @ManDewi -- http://takhanyacinta.wordpress.com

Jantung Kota

denyutnya
— bikin insomnia
detaknya
— bikin amnesia
Puisi Karya @aa_muizz -- http://butirbutirhujan.wordpress.com 

Museum Kota

Di sini aku singgah, duduk bermanja-manja..
Kicau riuh klason memecah sepi di beranda rumah..
Bukit batu megah menghiasi cakrawala..
Lampu-lampu jalan jadi teman ketika berjalan di gelap malam, menggantikan si bulan yang sedang cuti dinas..
Tanah dihiasi beton hitam legam, tak mengeluh meski darah dan air mata tercurah di hadapannya..
Hari ini jika telah selesai ditulis cerita, catatannya masuk museum kota..

Puisi Karya @warniwarnaku -- http://warniwarnaku.tumblr.com

Ada Cerita di Sana

Mulai menjajaki, pertama kali menjejak

kusebut sunyi

hanya derap-derap langkah mengisi sudut-sudut jalan

deru mobil ramah akan suara

berjalan waktu

kebisingan adalah penghuni baru

satu langkah menjadi kecemasan dan tabungan kesabaran

ramah adalah kepuraan di persimpangan

sapaan hanya berupa jerit klakson

seperti memekak telinga, meminta jalan

tidak ada yang dikenang, kecuali hujan dan semuanya diam

menyesak di emper-emper toko menghindar deras tak berkesudahan

penuh sudah kota ini

tapi cinta dan kesetiaan menyuguh detak hati

hidup di sini, adalah pilihan sebelum mati

menyerap ilmu sebanyak denyut nadi

aku tak menetap

hanya singgah sebentar

lalu mencintai dan menitip keberadaan

di mana aku, di mana kota kecil ini mengajari

tentang hidup dan cinta

*ini catatanku di Salatiga*

Puisi Karya @dzdiazz -- http://dzdiazz.blogdetik.com

Setelah Pukul 22.00 -- Tak Lagi Lengang

Pulang ke kotamu,

: katamu,

Setangkup haru dalam rindu,

: kataku.



Pada lengang jalanan kota – pukul 22.00

Setelah aku menjemputmu di stasiun tugu – pukul 20.00

“Tak apalah, asal bersamamu”
Sesekali kau mencuri cium di bahuku – kangen



Pukul 22.00

Jalanan kota kini riuh serempak

Pun pada sudut kota, di setiap tepi jalanan

denting sendok beradu gelas kopi
terbahak kumpulan lesehan para lajang sedang menepikan sepi
bletak perkusi serta senar gitar berlagu melodia masa kenangan

Semua keriuhan itu,

cukup sembunyikan detakku yang tak biasa kali ini

sebenarnya lebih degup dari keramaian di tepian jalan



Pada lengang jalanan kota – pukul 22.00

Remang lampu kota, ke arah selatan kita menyusuri larik pelangi

“pun aku mencintaimu,”katamu.


Setelah pukul 22.00

Sepanjang jalan ke selatan tak lagi lengang.


Puisi Karya @_bianglala -- http://pelangiaksara.wordpress.com

Di Halaman Rumahmu

Yang kau tanam di halaman rumahmu
sudah menjadi bahasa, yang kini
menanggung perih musim
bagi daun-daun kuning
jatuh menimpa jari
tanganku;
rinduku
Pun
pernah
terulur untuk
menggenapi sisa-sisa
doa, yang terus mengawang dan
hilang di peram kesunyian masing-masing

Solo 2005-2012

Puisi Karya @_nears -- http://retakkayu.wordpress.com

Jelang Zaman Es

Jelang zaman es
baju zirah tersemat apik
pada bahu-bahu kota
Aku
menelusupi jeda-jeda
Menyuara doa
rebahlah di pelupuk senja

Baju zirah rekah sebagian
kota-kota menyembunyikan matahari
di balik punggungnya
Lekas rebah, sayang
salju kian merapati dermaga

Matahari khusyuk berjuang
bahu kota dijejaknya
Angin riuh mengiring
Beranjak kempis
rongga dadaku kering

Direguknya bulat-bulat
biar berbelit
di balik punggung
Matahari teramat jumawa
Selamat rebah zaman es
lain waktulah bersinggah

Puisi Karya @meyDM -- http://meydianmey.wordpress.com

Rindu Senandung Pagimu

Aku menghela nafas lebih lega, membiarkan udara menjalar ke seluruh tubuhku, memelukku
Aku terdiam melumat senyum, kehabisan kata saat kembali terduduk di pangkuanmu
Mengendapkan seluruh luka yang tetiba saja menggores ketika aku gagal bertemu
Ya, aku harus memupus semua haru biru pertemuan yang telah aku bayangkan lebih dulu

Sekarang, aku disini bersamamu, di satu waktu yang selalu aku tunggu
Aku menikmati cumbu darimu yang selalu aku rindu
Dinginmu, sejukmu, serta teman pagi yang membalut aku dengan syahdu
Aku, yang kemudian tak lagi ingin meninggalkanmu

Mungkin, bukan kau yang merasa sendiri kemudian sepi
Mungkin, bukan kau yang terantuk-antuk rindu kemudian membiru
Mungkin, kau lebih menikmati segala yang baru, menghampirimu
Mungkin, kau lebih menikmati sapa-sapa asing yang aku kira semu

Aku, aku yang memupuk rindu-rindu untuk senandung pagimu
Aku, aku yang selalu berangan kembali ke pelukan tenangmu
Aku, aku yang tak mampu menawarkan cinta kepada selain kamu
Aku, aku yang terus menggebu mengelu-elukan kamu, indahmu

Sayangnya, aku tak lagi melihatmu yang begitu lugu
Kau lebih kekar dengan sembarang rasamu yang kadang terlihat tak menyatu, denganmu
Sayangnya, aku tak lagi melihatmu yang menyukai sepi di sekian titik waktumu
Kau lebih bingar dengan sembarang hiburan yang kadang aku tak yakini, itu kesukaanmu

Kamu,
Aku suka mendapati pelukanmu
Aku bahagia kau cumbu dengan udaramu
Aku berpesta dengan kecupan senjamu

Namun, aku....
Masih saja merindu
Tentang kamu, tanpa bingar yang melekat padamu
Tentang kamu, yang menyambutku dengan nyanyian burung pagimu
Di situ, alun-alun kotaku
Kamu, Malang yang syahdu

Puisi Karya @wulanparker -- http://lunastory.blogspot.com