Tampilkan postingan dengan label Puisi Akrostik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Akrostik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 April 2014

Bayi

Biarkan aku merawat, seperti pengasuh yang dibayar untuk mengganti popok anak-anakmu.

Atau memandikannya, padahal tanganmu masih sanggup mengangkat gayung dan membalur tubuh lembut berbau surga. Kau juga bisa menatap matanya -- sama waktu pertama kali kau jatuh cinta. Ada begitu banyak rahasia dan kau memilikinya.

Yang akan kubedaki, meski wangi masih lekat sebasah apapun keringat. Ia takkan berbicara apa-apa, selain tangis yang ia pelajari dari ibunya; ketika bersedih karena disakiti laki-laki, atau kecewa angan-angannya lebih tinggi dari langit lalu jatuh terhempas.

Itulah tubuh yang akan kurawat. Sebab di dalamnya telah kutanam berbagai macam mimpi.

~ teras atas, 06 april 2014

Puisi karya @dzdiazz - http://aksaralain.blogspot.com

Amore Andrea

Aku mencoba percaya pada utara

Masih dengan perasaan yang sama

Oleh rindu-rindu beterbangan keselatan

Rasa masih saja terasa sama

Entah kamu pun merasakannya atau tidak

Aku mencoba percaya padamu, kembali

Narasi yang dulu sempat rapuh

Diujung bibir kita bercumbu

Rindu, perlahan rapuh dalam pelukan

Entah kamu mempercayainya atau tidak

Aku tetap memaksamu percaya, hei Amore – Te quiero

Puisi karya @GistiiRA - http://gradistie.wordpress.com

Kerajaan Pasir

Kata-kata menggantung di langit-langit mulutmu

Enggan jatuh meski perih membuat kau gemetar

Riang terkadang hanya singgah, tak cukup memeluk

Atau tinggal namun berontak, tak cukup menepis kalut

Jika hati diciptakan dari kaca,

Apa sanggup kau betulkan hanya dengan melupakan?

Abadikan riuh di hatimu, Puan

Niat baik yang gaduh jangan diredam

Pastikan aku sebagai istana tempat kau berkeluh tak mati berdebu

Aku ingin doa-doa tetap memberkatimu dari teman yang bertamu

Setia menjadi angan dan tempat kau pulang untuk melukis kenang

Ingatlah ini, Puan, tanamkan di benakmu sekuat kau merawat ketulusan

Ruang-ruang di sini akan mengingatmu lebih baik dari jejak yang mampu dihapus ombak

Palembang, 6 April 2014

Puisi karya @madeehana - http://pasiringatan.wordpress.com

Rinduku PadaMu

Rindu begitu liar bertumbuh
Ibarat asin laut yang kian pekat, mengurungku sesak
Nyanyian yang dulu sering kudengar perlahan sayup lalu kian senyap
Dan aku seketika itu hampa
Ujung jariku tak lagi merasakan manisnya udara
Kesementaraan sungguh sia-sia tanpaMu
Untuk itu tolong ajarkan apa yang harus kueja dalam doaku nanti malam

Pelita kian redup diserbu derita
Angin semakin sembilu rasanya. Lantas tak sanggup lagi berlari sendiri seperti
Dahulu yang sering aku lakukan.
Aku telah gugur dibawah kakiMu sejatinya namun
Menyangkal lebih dari tiga kali
Untuk itu tolong ajarkan apa yang harus kueja dalam doaku nanti malam

-Soahuku, 6/4/2013-

Puisi karya @didochacha - http://mruhelessin.wordpress.com

Di Sana

Teduh suara gerimis di sini. Meski teletiknya riuh mengingatkan waktu. Berhitung-hitung tentang kepergian sebentar ragu.

Entah. Hendak ke mana rindu kali ini melayari waktu demi waktu.

Rentangan musim labuh terlampau jauh dari penghujung. Sesekali singgah untuk meratap dengar kertak-kertak yang gagu.

Aku perlahan melepas rengkuh, “Tak apa.”

Sebuah pagi akan kembali. Burung-burung tetap sumringah mematuk biji-biji cahaya di mata langit-langit yang suwung.

Aku bisa apa? Bila aku sudah mencuri-curi wangimu di antara harum tempias yang jatuh.

Tetapi rupanya diam-diam puisimu lebih dulu menuliskan gerimis yang menyimpan warna ngilu.

Aku pasti terbiasa tanpamu.

Sunyi mulai berhitung. Satu – dua –tiga… hingga tiba kapal sang waktu. Pelupuk hujan tak sempat lagi memberangus.

Puisi karya @_bianglala - http://pelangiaksara.wordpress.com

Kangen Bapak

Kini semua takkan sama lagi
Aku tak lagi bisa berbagi
Nelangsa terkadang rasa di hati
“Gelo”, karna masih ada yang kusesali
Entah sampai kapan sesal ini kan pergi?
Nanti atau kah kan kubawa sampai mati?

Bapak, engkau telah pergi dan takkan kembali
Aku kangen bapak setengah mati
Pada guyonan dan nasehat penguat hati
Aku kangen bapak setengah mati
Kini harus kuhadapi hari, tanpa engkau lagi di sisi

Yogyakarta, 6 April 2014

Puisi karya @MayHpt06 - http://mynameismaylia

Rinduku Kamu

Rona merah jambu menyapaku Isyaratkan getar rindu di titian kalbu Nyanyikan basah hati teramat syahdu Dan perlu kamu tahu bahwa dinding hati tak selamanya beku
Umpama batu ditetesi hujan terus menerus tak kenal waktu

Kamu, ya... kamu! Usik saja aku dengan ingatan biru

Kadar maupun radar sudah tak terhitung ribu
Aku merindukanmu, duhai tuan pencuri hatiku
Manakala getar rindu dan basah hati sampai kepadamu
Usah kamu ragu sebab rinduku kamu, rinduku kamu

Puisi karya @Susi_SmileKitty - http://luphly-shie.blogspot.com

Tentang Kamu

Tuhan tak pernah lelah mencintai aku dan kamu Entah dengan cara yang bagaimana Dia mampu mempertemukan kita. Nyanyian-nyaian kebersamaan terdengar mendekat. Tentang kamu yang tak akan pernah habis, Aksara-aksara yang tak pernah terpenjara. Nada-nada suaramu yang memecah sunyi, Gemerlap dalam gelap malam.

Kau hantarkan rindu yang pernah hilang, bersemi bersama mentari pagi Aku mencintaimu kasih, Mencintai semua tentangmu. Untuk itu aku menjemputmu kembali, meraih tanganmu yang penuh dengan rindu.

Puisi karya @dyazafryan - http://dyazafryan.wordpress.com

Sepenggal Kenangan

Ketika itu senja perlahan rebah di kejauhan Engkau ada di benakku, berkelebatan Nyatanya bukan kau sejatinya, hanya bayangan Ah, mungkin itu hanya ekor mimpi panjangku Nyatanya bukan kau seutuhnya, cuma semu Gemerlap serupa kilatan cahaya, berpendar biru Aku tahu kau telah berlalu, tersisa sedih di situ Nelangsa dan lara terasa jua, meradangkan hidupku

-kaki Merapi, 5 April 2014, di petang malam Minggu-

Puisi karya @phijatuasri - http://lariksyair.blogdetik.com

Kematianku

Kencangkan sabuk pengamanmu, lalu berpeganganlah dengan erat, sebab aku akan membawamu pergi dengan kecepatan yang lebih lesat dari kilat.

Entah apa yang akan kau pikirkan setelah kita sampai di tujuan, karena sesungguhnya aku tak peduli, sama seperti tak pedulinya kau pada pohon-pohon cabe yang kusemai di pot-pot mungil di teras rumahmu.

Mungkin segalanya akan berubah atau tidak sama sekali, sebab yang akan kutunjukkan sesungguhnya jauh lebih baik atau lebih buruk dari sesuatu yang sedang kau bayangkan.

Atau bila memang jauh meleset dari apapun yang berlarian di kepalamu, kuharap kau tidak terkejut lalu memaksa pindah ke kepalaku, karena aku sudah terlalu sibuk dengan kebun buah dan bunga yang lebih sering kau bilang belantara di kepalaku.

Tapi ketahuilah, bahkan di pikiranku kau tak akan lebih buruk dari semua hewan-hewan liar yang sering beterbangan dari mulutmu atau sumpah serapah dari bibirku ketika kita sama-sama meninggalkan otak kita dan membiarkannya berlibur sejenak menikmati angin semilir di tengah hutan.

Ingatlah saat kita masih saling bertukar permen kapas di taman lalu berlarian dan berkejaran sambil tertawa-tawa seperti adegan film India yang kadang membuatku merasa aneh karena kita pernah melakukan adegan menggelikan itu.

Apakah kau masih memejamkan matamu saat kita sedang melaju karena terlalu cepat menurutmu namun terlalu lambat menurutku?

Nyatanya kau tetap sedingin kutub utara meski kita telah mendarat dengan penuh memar dan lebam di sana-sini karena membentur banyak aksara yang beterbangan di tengah jalan.

Kematian bukan penyelesaian, namun akan kukabulkan bila kau menginginkannya, maka di sini akan kugali pemakamanku sendiri lalu kita akan terbebas dari apapun yang coba kita paksakan untuk disatukan.

Usaikah? Setelah ini? Langit menampilkan semburat ungu, sedang burung gagak menyanyikan lagu dari neraka; aku masih terus asyik menggali, sementara kepalaku mengikutimu.

Pangkalpinang, 5 April 2014

Puisi karya @isyiaAyu - http://isyiaulfa.wordpress.com

Kamis, 13 Desember 2012

Membaca Kamu Lewat Tulisan

Mengambang-melayang aku di dadamu
Enggan jatuh enggan menyentuh
Matamu, hatimu yang
Buta, beku
Adalah aku yang selalu rindu
Cakap jemarimu meramu
Abjad terserak di atas kertas abu-abu

Kepalamu berisi kata-kata luar biasa hingga
Aku tak memiliki kesempatan untuk
Menyusup-merayapi kepalamu bahkan
Untuk sekadar memperkenalkan diri

Lengan-lenganmu lalu kulirik sebagai instrumen manis
Entah sebagai tempatku berdiam atau
Wahana tempatku mati nanti
Aroma surga sudah
Terangkum di kilau emas pena –jarummu

Tentang cinta, aku menyerah-kalah dan tentang
Usaha untuk terlihat olehmu, aku menyerah-lelah
Limbung ragaku dalam dadamu adalah saksi betapa
Irama rasaku tergantung irama jemarimu apalagi ketika
Saatnya nanti, aku dan kata-kata seharusnya tercetak di
Atas kulitmu berbentuk sebuah nama
Namaku

Puisi Karya @ManDewi - http://takhanyacinta.wordpress.com

Surgaku, RumahMU

Ringkas cerita perjalanan hidup, susah senang tetap dikenang, catatannya tak pernah lekang..
Usia bukan tolak ukur untuk sewaktu-waktu pulang, tua muda tetap tak dipandang..
Mati enggan, hidup pun segan..
Antara waktu sebelum merenggang, masing-masing diberi kesempatan untuk merenung..
Kehidupan punya rahasia besar untuk di telusuri..
Upaya saja tak cukup tanpa segala daya..

Singkat kisah, anak-anak senang tertawa riang, orang dewasa sering berpikir panjang..
Ukuran jumlah umur bukan batasan seseorang berkembang..
Raga boleh saja renta, tapi apalah artinya jika ia layu sebelum berkembang..
Gunakan iman sebagai pengaman dari segala ancaman..
Agar segala yang buruk tak kekal, segala yang baik menjadi bekal..
Miskin harta tak jadi soal karena segala sesuatu tetaplah akan kembali ke asal..
Usai usia semua kembali ke awal, cerita selesai, lembaran baru segera di mulai..

Puisi Karya @warniwarnaku - http://warniwarnaku.tumblr.com

Hujan Bulan Mei

Hujan, gerangan apakah yang mengirimkan rindumu sebegitu menderu kepada bumi, hingga dedaun gugur tak dapat menahan sendi.
Untuk apa angin mencari ruang-ruang hampa, cahaya menerangi sunyi sepi.
Jika awanmu menutupi segala cahaya, dan menjadikan angin lebih susah di mengerti.
Aku masih satu musim lagi di kota sepi, hujan; mengeja butir-butirmu yang menuju ke entah.
Nanti, dikepulanganku; datangkan saja hujan badai yang melantakkan dahaga, melerai perseteruan musim-musim langit.

Biarkan badai menyeka airmata, yang lama sepi di punggung bumi. Biarkan senyum sekujur muka di lapang dada cinta mengada.
Untukmu hujan, datanglah seperti apa saja: mederas, merinai, merintik. Aku tak perduli, sebab kau penghapus sunyi di mata ini.
Lantas, gerangan apakah yang megirimkan rindumu sebegitu mederu kepada bumi, hujan?
Aku tak pernah tahu. Mungkin kau adalah tirai pelangi yang menutupi indah warnanya, sebagai cinta.
Namun, meski hujan di batas kuala
menajamkan kuku, aku memilih menari dalam bidukmu; sunyi tanpa tembang dan bunyi rapai.

Mengertilah hujan, mengerti angin. Mengertilah angin, mengerti hujan.
Entah gerangan apa yang mengirimkan rindu sebegitu menderu kepada bumi.
Itu mungkin airmata langit yang ingin menyentuh kekasihnya.

Puisi Karya @sugianto_iwan - http://bataslangit.tumblr.com

KAMU...

Kamu. tempatku mengadu saat resahku, tempatku bersandar saat lelahku, tempatku mencari hangat saat hujan mengelilingiku

Aku, yang mencintaimu disaat susah senangmu, saat sakit sehatmu, saat kau terjatuh dan penuh bekas biru, saat kau hilang arah dan lupa pulang , aku selalu ada untukmu

Mereka, yang tak pernah mengerti hati kita, memandang cinta ini salah dan penuh dusta, dan kita sedang bermain-main dengan dosa

Usir segala gundah, usah dengar kata dunia, cinta kita yang rasa, tuhan tak pernah salah menjodohkan manusia, kita lah yang tak pernah memahaminya

Puisi Karya @hatijingga - http://hujanbulanmei.tumblr.com

Puisi Rindu untuk Bunga

Bacalah dengan memasang simpul-simpul senyum terindah. Sebab puisi ini bukan lagi perihal luka, pun bukan mengenai genangan-genangan asin airmata yang mengendap dan lantas menjelma jadi huruf-huruf yang menunduk, meringkuk.
Untuk sebuah nama yang senantiasa tercatat dalam lembar-lembar doa. Kau tak akan sedikitpun dilekangkan deretan angka-angka banal pada kalender-kalender yang tergantung di dinding kamar. Karena ingatan adalah puisi yang tertulis abadi, di nadi-nadi sunyi.
Nir-waktu adalah sepenuhnya ingin, tentang sebuah pertemuan yang kerap kita rancang di putih awan gemawan angan, tak peduli engkau atau aku yang telah sampai lebih dulu pada batas nadir pengharapan.
Gamitlah, gamit erat segenap rindu yang kini meruah meriap di udara. Rindu yang dulu pernah terjaring kedalam metaforamu, yang tak sekalipun mampu kubunuh hingga masa membekukan semua airmata. Rindu yang menghangatkan mata, melumerkan tanya.
Ah Bunga, sudah beberapa jenak, masih juga tak nyenyak. Ataukah kenangan memang demikian? Selalu kumat dan sulit dilelapkan? Aku tak tahu, dan tak mau tahu. Yang kutahu aku rindu kau saat menuliskan puisi ini.

Langit begitu tampak sumringah kini, terbentang di langit kota. Dan beberapa senyummu kugantung di sana. Aku tak peduli, bila nanti senja datang sewarna kesumba atau ungu yang kemudian jadi kelabu.
Irisan pelangi akan selalu ada bukan? Setelah jemari hujan membelah langit menjadi dua bagian. Tetapi seperti yang kau tahu, Bunga, aku lelaki pembenci hujan.
Andai boleh memilih, aku ingin senja sewarna kesumba saja, biar senja ungu menjadi milikmu dan hujan menemanimu membaca puisi rindu.
Rindu yang menghangatkan mata, melumerkan tanya, membuat engkau dan aku selalu tampak ranggi di antara jeda tanda baca dalam puisi ini.

Puisi Karya @acturindra - http://senjasorepetang.wordpress.com

tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita

1/
hampa tak selalu menjadi musuh yang mendatangi kita pelan-pelan, membawa derita berpilin-pilin dalam pertempuran yang tak pernah menyisakan pemenang. ia datang sebagai suara seorang nenek yang mencabut uban di ubun-ubun usianya.
untuk cucuku, katanya sambil mengawinkan huruf-huruf kecil di kepala mungilmu. entah, butuh waktu berapa lama agar mereka beranak-pinak menjadi tokoh-tokoh protagonis yang melawan kita dalam kemahaan duniamu.
rupanya tak singkat. seperti kukila yang betah menari-narikan cumbuannya pada batang kokoh pilang yang telentang tak bisa pulang.
ujung-ujung rambutnya mewangi-bius setiap tokoh yang menyambut rentang pelukan.
fatamorgana? bukan.

2/
kenangan selalu tumbuh subur di bawah keningmu yang sabar merawat huruf-huruf kecil yang saling tikam.
embun-embun bening di pelipis malam pun diseka habis hujan rintih-rintih yang hendak pindah rumah oleh cinta yang marah.
ceritamu sederhana dalam keagungan bersayap.
indah.
lepas.

Puisi Karya @aa_muizz - http://butirbutirhujan.wordpress.com

YOU. ME. AND THE SPACE BETWEEN US

You. Me. And the space between us called Love

Lots of desire, abundant of beauty to show, no sorrow
One another. Let us attached and let go and grow
Vividly. Radiating like the sun refuse to slow
Embrace this feeling arises in an unbroken vow

You. Me. And the space between us called Faith

For sure we’re holding hand to hand tightly
As we put to each other our belief and trust and loyalty
Inseparable, we’d be absolutely. Undoubtedly.
Through good and bad times. Sweet and sad times. Eventually
Healing each other, freedom that breathes weightless and easy

You. Me. And the space between us called Hope

Have our heart set on trustworthiness floor
Over a few feet’s distance we walked together, more and more
Perserverance, promises, honesty, honor
Evidently comfortable with what we’re fighting for

You. Me. And the space between us called Forever

Flowers of amore shall grow we are in them and we call it eternity
Out of control we’re clearly heading to paradise of love, straightly
Right beside each other when we’re in need through this journey
Enthralled by every movement and every breath of the love tree
Verily where you and I could keep being wonderful effortlessly
Everlasting bond of hearts it will lead you and me
Returning to the magic of our love we’ll always be

You. Me. And the space between us called We.
---
Bety, December 2012

Puisi Karya @I_am_BOA - http://auntybety.blogspot.com

Kali Ini Tentangmu Saja

Seseorang itu perawan bersemu merah jambu di bawah payung pelangi, sesekali menatap langit membiarkan jarum keperakan menghunjam wajahnya:
Pelupuknya menyimpan hujan. Bulu mata itu terus mengerjapkan sembab sebelum jatuh menanggalkan hilir kepedihan.

Entah apalagi yang telah dibisikkan angin yang menyentuhnya – tak sehangat nafas kekasih menghembus lembap pada kulitnya. Hari ini musim basah membawakan gerisik gelisah.

Larik luka langit menggelap, belum tiba malam.

Ada perih dalam kesepian. Dan bocah-bocah berselendang warna warni menari diatas luka malam, menjerat kerat-kerat cahaya.

Nyanyian bocah-bocah berlagu sumbang — lesap ditelan malam kebasahan.

Gerimis datang… gerimis datang… kanak-kanak kenang makin melonjak-lonjak tak mau pergi. Lekas lihatlah pada awan, seseorang akan mewarnai langit petang.

Itu hujan, derainya meratap – berderak-derak angin menghempas pada atap.
Dilipatnya kembali rindu, seseorang tak kan pernah mau menemuinya:
Pelangi segera memucat, langit terlalu ungu, seseorang mewarnainya dengan satu warna – lebam dan muram; hatinya murung.

Apakah hujan segera reda, sedang langit pelupuknya terus sembabkan kesunyian menutup kertak-kertaknya.

Tetapi awan semakin retak, pun langit semakin nganga.

Andaikan segera reda, pasti para bocah kegirangan bersorak; bermain sepeda; lelarian di kecipak basah. Tengok saja langitmu.

Hujan pasti reda. Segeralah pilih warna-warni bagi cinta – bilakah ditemukan dan dibawa pulang.

Puisi Karya @_bianglala - http://palangiaksara.wordpress.com

Apa mimpimu? -- Ibu

Menemuimu ibu, dengan segala rindu yang takzim

Ibu, segala kerut keriput kulitmu adalah monumen, pun aku pernah berada

Melampui segala batas kekuatan diri, hingga kini ditempuhi

Pelukanmu, keterbatasan dua lengan — rengkuh yang tak terkira

Ibu, adalah hilir doa-doa – menyebut namaku bagi wujud semua mimpi.

Puisi Karya @_bianglala - http://pelangiaksara.wordpress.com

Hujan Senja Hari

Harapanku adalah butir-butir yang jatuh
Ulang demi ulang, resap terawang
Janganlah kehilangan, kau hidup sebagai kenangan
Aku dada yang siap kau lubangi bila memang perlu detak didengar
Namamulah gema dari hunjaman deras

Sayatlah seperti gerimis mengiris-iris jendela membentuk embun nama rindu
Elok dari tempias yang mampir lalu berbaris bagai serdadu
Nyalang, kenang, rebah hantam menghantam ingatan
Janji yang ditempakan rindu, luntur oleh bisu
Ada kehilangan mendaftar di buku pelukan

Hampir luput bayangan mengambil genggam
Air yang jatuh dicatatkan selayak hidup pada degup
Rayakan! mari bersenang pada dinding diam
Ini rindu, berbias cahaya dari mata air senja

Puisi Karya @dzdiazz - http://aksaralain.blogspot.com