Tampilkan postingan dengan label Lukisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lukisan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 April 2014

Berkali-kali

Siapa yang membawa mata ke tubuh berjauh-jauh. Ada dua atau lebih wajah berlapis pandang kesedihan. Kau tahu akupun tak tahu. Kesedihan itu turut ke mataku dan oleh sebabnya satu demi satu ada yang tiba-tiba saja berjatuhan seperti serpih kayu. Pedih.

Dan garis-garis yang tembus di permukaan merayu sepi untuk tegas seperti garis wajahmu.

Siapa yang menyaji gambar bila kesedihan-kesedihan itu tak berkesudahan. Wajahmu sekali lagi menipu dan kehilangan sudah memburu.

Sekali lagi.

Aku mengharapkanmu tak hanya mata yang memandang berkali-kali, atau kesedihan itu takkan berhenti sama sekali.

Puisi karya @dzdiazz - http://aksaralain.blogspot.com

Matra

Dua wajah terbaca dalam segores karya Ini cuma tentang bingkai dua matra yang kadang memicu perdebatan kita Seperti juga terjadi sesiangan tadi Kala kita berkeliaran di dunia maya, menjajaki galeri

Satu bingkai karya dua matra Sekejap menghentikan jemari berpesta STOP! Selancar dunia maya pun mandheg seketika

“Hebatnya Francis Picabia …. Seorang pria, separuh rupa Tirus wajah seperti menahan kelu tubuhnya, mungkin juga pedih yang bersandar, putus asa”

Lugas kalimatmu berjejalan menyesaki udara ruang on line pameran Seolah menimpali kerumunan tanya sarat memenuhi otakku di tiap lipatannya Sayang, tak cukup waktu bibir bersuara

“Satu lagi, menurut pandanganku adalah seraut wajah seorang nona Bibir dan pendar matanya memesona Ya, mata lelakiku mudah mengenalinya”

Kedua bola mataku membalas, mengejap beberapa jeda mengerling penuh tanya,

“Kau sedang membaca pikiran mereka?”

Tanpa sadar mulutku bicara

Aku hanya heran, tiap kali berurusan dengan dua matra Bagaimana bisa kau selalu punya cara menebak apa isi pikiran, meski cuma gambar karya Membikinku hendak mendebat dan bicara sekadar menumbangkan pendapat

Sayangnya, lagi-lagi ku tak mampu Bingkai karya dua matra, dua wajah itu seolah terlalu lekat membiusmu

“Sorot mata si perempuan …. Menyimpan harap terlampau besar Mungkin karena ia cukup yakin bakal jadi istri terakhir”

Lagi, kedua mataku membelalak seketika

“Istri? Siapa?”

“Dia!”

Telunjukmu menekan monitor begitu kuatnya Tampak wajah si lelaki, berbayang jejak sidik jari Ah, kau ini! Sudah macam detektif ahli Atau mungkin kau memang Sherlock Holmes wanna be

Entahlah Bingkai dua matra selalu seru jadi tema Berdebat kita, hari ini atau seterusnya Tentang dua wajah mereka Tentang surrealis, abstrak, atau apa saja

Entahlah Mungkin ini tak cuma soal matra Ini juga tentang jiwa, tentang bagaimana cara kita memandang ke arah mana seharusnya tentang bagaimana mengindera segala rupa objek dua matra lalu berpendirian, berdebat menurut logika

-kaki Merapi, 17 April 2014, jelang malam

Puisi karya @phijatuasri - http:lariksyair.blogdetik.com

Dalam Mata

1/Katamu, dalam mataku Kau temukan tempat berlabuh segala ragu Supaya genaplah rapal-rapal doa yang kau senandungkan tiap malam

2/Semenjak kutinggalkan kau di pelabuhan itu Telah kulukis dirimu : luka dan senyummu seutuhnya Lalu kutanam di dalam mataku segera

3/Memandang laut adalah ziarah panjang bagi kita Disana mata kita saling bertemu Mencipta pijar pada sajak yang kau sebut penebus dahaga

4/Jarak membuat kita sesekali berbincang tentang kerinduan yang goyah Lalu ingatan yang perlahan-lahan mulai terhapus Namun gerimis selalu saja turun dipelupuk mata kita pada akhir percakapan Memintal kembali resah jadi percaya bulat penuh Selalu

-17 April 2014-

Puisi karya @didochacha - http//mruhulessin.wordpress.com

Gadis Manisku

Kau, gadis manisku bermata sayu Yang selalu muncul dalam setiap mimpiku Dan kan selalu jadi impian termanisku Oh…gadis manisku bermata sayu

Tak kau rasakankah tatapku tajam Tatapan lurus yang kutujukan hanya padamu Jangan kau kira aku berlaku kejam Hanya pikirku penuh oleh dirimu

Tak pernahkah kau terpikir Apa yang kurasakan padamu Kau datang menengok sekadar mampir Tanpa pernah kau mau mencari tahu

Kau gadis manisku bermata sayu Selalu menjadi impian termanisku Datang, mendekatlah dalam pelukku Oh, gadis manisku bermata sayu

Pikirku selalu, kita berdua kan menyatu Dalam ikatan nan syahdu Hubungan berasa semanis madu Meski kadang ada rasa mengharu biru

Kau gadis manisku bermata sayu Lemah gemulai indah perangaimu Inginku jadikan kau utuh milikku Oh….gadis manisku bermata sayu

Yogyakarta, 17 April 2014

Puisi karya @MayHpt06 - http://mynameismaylia.wordpress.com

Mata

barangkali nanti engkau–adam–yang kulihat

pertama hari dimulai terhitung pagi

barangkali nanti aku–hawa– yang kaupandang

pertama melek dari ranjang-ranjang mimpi terhitung malam

Maka marilah kita saling lekat

mendenguskan nafas-nafas cekat

aku dan kamu membuang mata

melumat tubuh dari tinggal di ingatan.

“Tunggu!” pada kata-kata serempak, sebelum usai birahi.

“ada mata tuhanmu di kepalamu. Diam dan membatu.”

Satu tingal itu menetap, menatap tajam.

Dia memulai membacai batu, seperti mengucap tulah.

mengumbar cemar. menangkap gelisah.

mengurung dosa. lalu menutup vonis tanpa ampun.

dan mereka telanjang pendosa yang terkutuk.

Dia mata ketiga — yang tak terlihat untuk melihat yang tak terlihat.

Puisi karya @_bianglala - http://pelangiaksara.wordpress.com

Akulah Sang Mata

Akulah sang mata Menjaga tiap-tiap rahasia Entah satu, dua, insan manusia Baik tentang Adam maupun Hawa

Akulah sang mata Menatap tajam pada dunia Baik buruknya, ada tidaknya Sebab segala yang ada, terasa fana

Akulah sang mata Terlahir dengan dua jiwa Sekali waktu, enggan berkaca Seolah rasa meneriaki seribu logika

Akulah sang mata Terpenjara dalam lukisan tua Sedang di kepala, ingatan meraja Berontak dalam gejolak yang tak nyata

Duhai Adam dan Hawa Jangan tatap aku dengan sepasang mata Sebab aku telah menatapmu begitu lama Sebab akulah sang mata, terjebak satu cerita

Puisi karya @Susi_SmileKitty - http://luphly-shie.blogspot.com

Mata-mata

Mata-mata menyorot tajam,

seperti tak asing, menatap lekat tak berpaling.

Bibir itu berisi pisau tajam.

Meski terlihat sangat muram, ia mampu membuatmu terhujam.

Siapa yang menciptanya?

Goresan kasar, lekuk-lekuk garis hitam.

Ada makna, ada cerita.

Wajah yang menyimpan luka,

dendam,

dan kesendirian.

Ia ingin hidup sebagai pengingat,

namun yang terjadi ia hanya akan jadi wanita dibalik kanvas yang hangat.

Tak ada airmata,

tak ada banyak bahagia.

Ia akan tetap hidup bersama goresan tangan yang lainnya.

Puisi karya @dyazafryan - http://dyazafryan.wordpress.com

Seperti yang Kita Pinta

Seperti senja yang menebar harumnya waktu Seperti bias-bias dari deburan ombak yang menerjang Maka seperti ini rasa dibalik rasa yang dipersatukan Tuhan.

Aku selalu bimbang, Saat kata terhenti dan waktu tetap memutarkan rodanya Saat harap menghentikanku diujung pantai ini.

Pelukan rinduku belum terbalas olehmu, senja. Dia masih tergantung, melayangkan hati seperti benda mati. Sedangkan rasaku masih di sini mengharap sebuah kecemasan.

Lihat aku, Di bibir pantai, aku selalu mengadu rasaku.

Medan, 17 April 2014

Puisi karya @WE_Dewie - http://wedewie.blogspot.com

Minggu, 28 April 2013

Ada... Di Luar

Geopoliticus Child Watching The Birth of The New Man by Salvador Dali
Ada yang mengetuk di luar. Aku lihat, tak ada siapapun. Ada yang mengetuk di luar. Ketukannya semakin kencang. Aku lihat, tak ada siapapun. Ada yang mengetuk di luar. ketukannya sangat kencang. Aku lihat, matahari berjubah dementor di luar. Menghisap puisi-puisi dari setiap benua.

Ada yang menangis di luar. Aku lihat, tak ada siapapun. Ada yang menangis di luar. Tangisannya semakin kencang. Aku lihat, tak ada siapapun. Ada yang menangis di luar. Tangisannya sangat kencang. Aku lihat, seseorang lahir dari dalam pasir. Sesaat setelah pepohonan memakamkan diri dalam ruang hampa.

Ada yang berteriak di luar. Ada yang berdentam di luar. Ada yang meledak di luar. Ada yang tenggelam di luar. Ada yang terdiam di retak cangkang, menuju kehancuran. Ada … di luar.
Puisi Karya @aa_muizz - http://butirbutirhujan.wordpress.com

Dari Sebuah Cangkang

Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man by Salvador Dali
Bagian-bagian tubuhmu memaksa keluar. Menumpang kekuatan di alir sekujurmu.
Di bawah payung - entah apa itu - mula kehidupanmu di lindungi, selain keras selubung cangkang.
Siapa menunggumu di luar? Dua tubuh telanjang, entah apa pula yang ditunggu.

Lihatlah, betapa cangkang mencengkerammu erat.
Ia memaksamu tinggal, hingga retak berdarah.
Adakah yang kembali bergetar, selain kepalamu, selain tangan kirimu yang lebih dulu keluar?
dan kau tetap tenggelam tak sampai permukaan.

Apakah dua tubuh telanjang itu mampu menunggu?
Apakah tidak kelahiran dari cangkang menyesatkan dan mampu menuntaskan kesedihan-kesedihan yang lebih dulu tetas?

Sesudahnya,
tinggal kehidupan yang harus kau reka, tanpa kepedihan.

Puisi Karya @dzdiazz - http://aksaralain.blogspot.com

Di Bumi yang Ibu

geopolitical by Salvador Dali
baru
kekuasaan lahir
menetas
dari cangkang-cangkang
mengandung darah

tahta melenyapkan yang sudah
ada dan nyata
di bumi yang ibu

mata-mata
menatap
seksama
keruh-peluh curiga
dan ketakutan
 
bersiap mmenyambut
yang tak mampu kau sebut
hanya takut

:diaminkan semesta.

Puisi Karya @sayap___langit - http://atapbintang0812.blogspot.com

Ayah, Ibu, Aku, dan Duniaku

Geopoliticus by Salvador Dali
1/
yang kita tunggu mulai menampakan wujudnya
pelan dan pasti
kedatanganya merusak dunia
2/
ayahmu akan segera kembali sebuah tanah baru akan ayah beri sementara ibu sabar menerima sedih di tanah tak berhati
3/
cangkang pecah
tugas ayah pun usai
aku senang tak terperi
menanti ayah kembali
4/
perang pecah
kita berpisah
ayah pergi
ibu mencari
dan aku sembunyi

Puisi Karya @hatijingga - http://hujanbulanmei.tumblr.com

Bumi dan Durjana

Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man by Salvador Dali (1943)


**
Pada hati Ibu bumi yang meronta
Melahirkan separuh jiwa
Ada jejak meretas perih pilu
Mereka menapak sejarah peradaban baru
Menggores getir tempat Ibu berpayung rindu
Merenggut penuh nafsu

*
Mereka manusia yang terlahir dari durjana
Yang seolah muncul dan berkuasa
Meremukkan rahim Ibunda
Memakan apa saja
Rakus, nyaris tak bersisa

*
Bumi seisinya, apalah daya?
Tak mampu berteriak lantang, murka
Tak sanggup menahan jejak ambisi durjana
Tertinggal rintih luka di sana
Di hati bumi, kalbu Ibunda

*
Masihkah ada hati di dunia
Untuk bumi seisinya?
Untuk Ibunda yang kini bermuram durja?
Untuk dunia yang mulai poranda?

*
Bertanya pada hati kita
Semestinya, di sana jawaban itu ada

*

-Bulaksumur, 26 April 2013-

Puisi Karya @phijatuasri -  http://lariksyair.blogdetik.com

Bumi dan Manusia

geopolitical child watching the birth of the new man by salvador dali
Tuhan membuat bumi sebagai tempat hunian termegah bagi manusia.
Tuhan sudah mempersiapkanya sedemikian rupa untuk sekumpulan makhluk yang diciptakannya.
Manusia sebagai makhluk yg dipercaya olehnya untuk menjaga seluruh isi bumi.
Bumi ini sangatlah indah. Jika manusia bisa melestarikanya.
Sayangnya manusia terkadang tak pernah sadar.
Bahwa mereka adalah makhluk yg paling dipercaya tuhan untuk menjadi pemimpin di bumi ini.
Merawat segala yg ada didalamnya untuk keturunan manusia kelak.
Sayang, generasi demi generasi yang dilahirkan di muka ini tak selamanya bisa menikmati keindahan bumi.
Mereka hanya bisa melihat sisa-sisa dari segala keindahan di muka bumi.


Puisi Karya @aliflifa - http://ceritalif.blogspot.com

Cangkang Kehidupan

geopolitical child watching the birth of the new man by salvador dali
Kitab dongeng para tetua bertutur tentang cangkang penyimpan embrio Nuh –

Selusin kepak mendarat di remah tanah
Menyulam tubuh pencari keabadian; pencari kehidupan baru terjanji, menjadi doa pengharapan setiap para bocah.

“Tunjuk satu daratan!” jerit wanita papa.
“Hentikan bandang lendut dari langit mentega, seseorang pasti tahu hal ini.”

Lalu ada hidup beranak-pinak dalam satu daratan.
Mengais waktu menikahi bumi dengan setia

Tetapi luntahan janji-janji si tuan kuning bermata kuning, makin menjulur menggapai leher-leher amarah
Kemudian henyak lelah terperangkap dalam pigura keegoisan
Tak bisa lari

Ada harap telanjang angkasa tentang bumi yang semakin sakit
Karena tumpah darahnya pada alis mata seekor jalak

Lalu peri bersorak sendu

“Berhenti rajam tanah dengan riuh! Berhenti! Karena tetumbuhan sebenarnya lekuk-lekuk di kelopak matamu
Dan hewan adalah darah yang mengalir dalam nadimu.”

Dan hening.
Yang mengecap manis menjahit ujarnya
Yang mengecap pahit sibuk merapal kutuk
Diterakan tanda tanya pada kening
Adakah ibu Bumi meluap angkara lagi?

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh baik. *)

*) kutipan kitab Kejadian 1

Puisi Kolaborasi Karya @didochacha dan @_bianglala -  http://mruhulessin.wordpress.com/ dan http://pelangiaksara.wordpress.com

Manusia Baru

Geopolitical Child Watching the Birth of the New Man. by Salvador Dali
Bumi semakin sekarat
Tanah tempat kita berpijak
Kini mengerang bergeliat
Memuntahkan isinya yang berkarat

Manusia-manusia terlahir baru
Keluar dari cangkang rahim Ibu
Lalu, bertanya dengan wajah pilu
Apa yang harus ku lakukan untuk bumi ku?

Sejenak, hari makin berganti
Bulan menjadi matahari
Masihkah kita tetap berhierarki
Menjunjung tinggi keegoisan hati

Puisi Karya @amaniaghina -  http://imaginationoflove.tumblr.com/

Kelahiran yang Pemali Ini membuatku Gentar

Geopolitical Child Watching the Birth of the New Man by Salvador Dali
Aku gentar
Belum apa-apa lengannya sudah menjangkau seberang benua
Kepalanya menyembul bagai bola mata yang hendak keluar dari tempatnya
Kakinya seakan merobek semesta
Petaka

Aku bersembunyi di antara kaki entah siapa
Siapa saja asalkan aku tidak dekat-dekat dengannya
Aku menutup mataku sekali dua kali
Berkali-kali asalkan aku tidak melihat kelahirannya yang pemali

Tidak seharusnya ia lahir di sini
Di tempat yang tidak membutuhkan anomali
Mana induknya?
Kembalikan saja ia ke alam baka

Ini bumiku
Hijau penuh rimba
Biru oleh samudera
Ini bumiku
Tidak boleh berubah merah karena darah
Tidaklah bising karena desing

Aku gentar pada mereka yang lahir berbekal asumsi
Bahwa merusak alam adalah benar demi sesuap nasi
Lalu menyakiti demi gengsi adalah hal biasa
Belum tahu ahimsa?
Tidak percaya karma?

Ini bumi tempat aku menjejak
Bukan untuk dirusak

Puisi Karya @ManDewi - http://mandewi.wordpress.com

Tanah Suka Dukaku

Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man (1943) - Salvador Dali
Tanah ini tanah suka dukaku
Tempat kami berpijak dengan jejak
Tempat kami bertualang dengan riang

Namun lihatlah bumi pertiwiku
Tanah ini telah tampak retak retak
Tanah ini sudah tak layak dikunjung

Bahkan sejak perang berhenti dulu
Kemana manusia manusia tak berotak
Kemana jiwa jiwa yang lengang

Kami telah kubur masa masa lalu
Cangkang kehidupan pun kini tergeletak
Cairan anyir leleh dari celah cangkang

Inikah manusia dan jiwa yang baru
Yang kan perbaiki pertiwi dengan bijak
Yang kan tanami hijau sampai rindang

Aku takkan sabar untuk menunggu
Tanah ini tempat kami berpijak
Tanah ini tempat kami bertualang
 
Puisi Karya @Susi_SmileKitty -  http://luphly-shie.blogspot.com/

(Belum) Terlahir

Geopoliticus by Salvador Dali
terseret udara hingga barat 
bukan aku yang kamu cari sebenarnya 
meski aku selalu kamu pegang erat 
aku tahu disana kamu temukan sahaya 
berhembus udara kering dan pasir 
terasa hangat dan menyentuh 
aku sebenarnya bukan ingin bercerita 
hanya ingin bergumam 
bergumam tentang kehidupan baru 
bergumam tentang yang telah dijanjikan 
aku rasa bukan itu maksudnya 
ternyata aku dipermainkan 
dibuat bingung tak karuan 
fikiranku mulai melayang 
terkoyak sepanjang padang ilalang 
beristirahatlah saja disana 
ini bukan sebuah takdir, kamu berdiri diantara kakiku 
lihatlah kenyataan yang begitu jujur itu 
menyakitakan kemudian melebur bersama darahmu 
bersama kesakitan yang akhirnya akan membuatmu memahami 
mengerti mengapa kamu berdiri dengan dua kakimu
 
Puisi Karya @RGAgastya - http://rgagastya.tumblr.com

The Birth

Geopoliticus Child Watching The Birth Of The New Man (1943)
By Salvador Dali

O,
cangkang rahim Ibu Bumi retak
digeliat lesak terdesak sesak
sampai pada titik paling akhir
leleh darah kelahiran
manusiamanusia paling
: Keparat

Puisi Karya @melcorner - http://jejakmelctr.wordpress.com