Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

Seribu Wajah dalam Satu Wadah

Mer, tak tampak jelas isyarat apa yang tengah kau bangun dan kau gurat di antara kelok-kelok tirus pipimu. Kini wajah-wajah itu tak lagi mampu kuingat — hanya serupa tanda tanya yang tak pernah ingin kukenang dan kuakhiri dengan sebuah jawabanmu.

Kesedihan-kesedihanmu yang urung kuartikan duka, juga bahagia-bahagia terbaca sebagai duka. Ah, Mer… Terlampau banyak tungku kata di wajahmu harus kupadamkan dengan metafora-metafora. Luka begitu mencintai segala dukaku, juga dustamu.

Seribu wajah dalam satu wadah, cukupkah waktu yang fana memberimu ruang untuk kembali bersandiwara? Drama-drama air mata tak lain hanya perihal kamuflase pengkhianatan belaka. Kita telah sampai pada epilog, Mer. Tak ada waktu untuk isyarat-isyarat purba yang kini tak lebih dari sekadar badut-badut yang terus menertawai dirinya sendiri.

Mer, aku tak lagi mampu mengingat. Seribu wajahmu hanya berselubung kabut muslihat
 
Puisi Karya @acturindra - http://senjasorepetang.wordpress.com

Sebuah Spekulasi

Pada akhirnya, rupa-rupa itu hanyalah pura-pura belaka. Bagian-bagian tubuhmu bersembunyi di balik bola matamu, meracuniku lewat gelombang-gelombang tak kasat, hingga aku jatuh pada jatah yang bukan milikku. Biarlah aku yang menanggungnya, menunggang pada permainanmu yang tak pernah main-main.

Akulah yang senantiasa memainkan gitar, bersama rembulan yang telah kau perangkap dalam durasi permainanmu. Kami meninabobokan setiap luka yang kau perjudikan bersama topeng-topeng, yang kau ombang-ambingkan di ambang jendela kamarku.

Yang patut disalahkan, sayang, hanyalah kepandiran berlendir yang menyelimuti otakku: mencintaimu.

Puisi Karya @aa_muizz - http://butirbutirhujan.wordpress.com

Hitam.. Kelam

Aku menetap ke atas
Dimana kapas hitam merintikkan rinainya
Tak sedikit, kepalaku seolah terpukul rintik itu
Aku berada di tengah ruang luas
Ruang dengan atap kapas hitam berinai deras
Terputar piringan hitam tanpa harus ku tekan tombol “on”
Seolah nyata di depan mataku
Jatuh tepat pada fokusku
Nyata, tegak dan diperbesar
Dengan bangganya kau tertawa dengan kekerdilanmu
Tawa yang kau anggap ceria
Tawa yang menyakitkan
Tak lagi untuk gendang telingaku
Namun untuk hatiku
Terlihat kau tersenyum bangga
Senyum yang kau anggap indah
Dengan bangganya kau senyum dengan balutan topengmu
Topeng dengan beribu warna indah
Tak sadar di balik topeng itu hanya ada satu warna
Hitam..
Kelam..
Sesaat lagi warna – warni topengmu akan terhapus
Terhapus mendung dan rinai
Tergantikan dengan warnamu yang sebenarnya
Hitam..
Kelam..
Semakin keras ku dengar pekikkan kepura-puraanmu
Bersama bala tentaramu
Yang dungu tak sadar panglimanya pemilik topeng kemunafikan terbaik di dunia
Semakin ku rasa kehangatan di pipiku
Sepertinya rintik ini bersahabat
Menemani gundukan air di kelopak mata yang lemah
Tak hentinya piringan hitam itu berputar
Ingin ku hentikan
Namun tubuh ini terlalu kaku untuk berlari menekan tombol “off”
Hatiku hanya dapat memberontak
Ya ! hanya lewat hati ku memberontak
Semakin nyata ku rasakan kehangatan di sela rintik deras yang mengalir hebat di pipiku
Tak terencana
Gundukan itu meleleh menambah kehangatan di pipiku
Meleleh bersama dustamu
Semoga ia ikut mengalir menuju samudra Bersama rinai dan air mataku

Puisi Karya @PutriiPii - http://dibalikkepala.blogspot.com

Meruah

Tabir itu kini 
Menyingkap satu misteri 
Ketika bait mengajariku mencicipi 
Kisahmu berangsur sepi 
Tak ada cakap terpecah 
Yang kulihat hanya rona bercampur, meruah 
Tumpah… 
Di sepanjang bibir merah 
Tak lagi kukenali engkau 
Tak jua kudapati napasmu sengau 
Hanya meruah satu risau 
Terbaca dari dua binar matamu, galau 
Tidakkah kaurasa angin pun mendesau 
Merayapi lekuk tubuhmu yang kini kacau? 
Duhai, apa yang sedang terjadi? 
Melihatmu berdendang sendiri 
Dalam ramai yang kaupikir sunyi 
Meruah gulana itu kembali 
Terbayang olehku wajah kanak-kanak kita 
Polos, lugu, bersahaja 
Beribu sayang waktu merusaknya 
Satu sahabat kita sesat oleh candu narkotika 
Kau, ingatkah padanya? 
Kini, lihat dirimu 
Terbujur lemah lesu 
Sesekali mengejang hingga kaku 
Menahan dera sakitmu 
Yang mereka sebut-sebut sakaw itu 
T’lah meruah lara raga dan batinmu 
Berhentilah, usah lagi lakukan itu 
Dengarkan, jikalau memang kau masih sahabatku 
Berhenti…, berhentilah…. 
Cukup, sudahilah…. 
** 

-Karang, 12 April 2013-

Puisi Karya @phijatuasri -  http://lariksyair.blogdetik.com

Bertumpuk

Ada kalang kabut di sana
Entah di bagian mana, di antara ketiadaan dan harapan
Saling penuh memenuhi, dan aku sesak

Aku hanyalah keberadaan yang tak berada
Sedang kau, ingatanku dalam segala rupa

Apa hendak kuhapus, jika lemparan-lemparan ada telah begitu nyata
Seperti kanvas yang telah yang telah dikawini tinta
Siapa rela menceraikan indah lukisan?

Kau adalah bagian, di mana tanganku dengan teguh merebahkan warna-warna, hingga rupa.
Kaulah warna, tumpukan yang kujadikan rupa dari cahaya ke asa.

Puisi Karya @dzdiazz -  http://aksaralain.blogspot.com

Noda

Sejuta rautku terlukis diwajahmu
Kunobatkan mereka sebagai hadiah terindah
Semalam ada bimbang terombang-ambing menginap pada larik penantian
Ada waktu mengais kepastian
Kita akhirnya bersepakat menjadi kanvas dan cat air
Menikam noda-noda yang berserakan

Dan wajah-wajah lain yang terpaku melihat kita
adalah warna bibir yang mengilusikan kehidupan
Sederet kata tidak akan pernah benar-benar membunuh arti dari hidup yang telah bersama kita lukiskan
Dalam hembus udara yang semakin kelam, kita terus membunuh noda

-12 April 2013-

Puisi Karya @didochacha -  http://mruhulessin.wordpress.com

Tentangmu

Kadang ketika aku menutup mata.Aku hanya bisa melihat lenganmu menjulur kearahku. semua tampak benderang. hanya ada aku dan kau dalam kepalaku.

Tak perlu menyalakan pelita sebab rindu ini sudah benderang menyinari kita dalam kegelapan.

Di kepalaku. mari kita sedikit saja membicarakan kebahagiaan. membocorkan sedikit takdir yang diciptakan Tuhan untuk kita.

Bermainlah sesukamu di kepalaku Nona, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. buatlah elegi tentang kita.

Hingga akhirnya, aku membuka mataku dan kau pun hilang dari kepalaku. Kataku ini hanyalah fatamorgana.

Tak perlu menangis, terimakasih sudah menyempatkan hadir di kepalaku ketika aku menutup mataku.

Sampai kapanpun kita akan tetap pada jalur yang sama. walaupun langit yang membedakan kita. Jarak yang menisbikan kita

Puisi Karya @Datudwija -  http://xoelicious.blogspot.com

Dalam Khayal

Layaknya hujan yg turun membasahi bumi.
Tiada henti menghujam hingga meninggalkan aroma khas
Selayaknya juga hati ini yg tiada henti menunggu
Selalu tercecap rindu disetiap denting waktu

Aku bagai candu hatimu
Yg selalu tersakau bila rindu datang menyelinap
Tak peduli kau ada dan tiada
Rasa ini tersusun rapi diruang kecil nan kosong

Tak lekas ku membayangkan wajahmu
Bulatnya mata serta senyum manis yg menghias indah wajah mu
Tanya ku selalu terselip kala ku mengingatmu
Kapan kedua bola mata kita kan bertemu?
Saling menyapa dalam wujud nyata…

Puisi Karya @ellyaangrainii - http://ellyaanggraini.blog.com

Dua Kuadrat

1.
Suatu hari di kotaku, rintik hujan perlahan-lahan jatuh.
Tapi yang basah bukan bumi, melaikan sebidang pipi.

Sebelumnya ada murung yang menggantung begitu lama, lalu angin siap mengkonversinya jadi air mata. Dan gemuruh tak luruh-luruh seperti bayi yang kehilangan puting ibu.

2.
Suatu hari di kotamu,
Pagi, siang, dan malam ibumu mencuci begitu banyak baju
Merah, kuning, hijau dan biru.

Dan beberapa gadis bercerita tentang drama cinta seorang lelaki dengan mainan topeng baru.

3.
Suatu hari di kota kita, kebahagiaan makin fana.
Gerimis turun tak habis-habis sehingga cucian ibumu tak kunjung kering.

Lalu beberapa gadis bercerita lagi tentang tubi-tubi tamparan sadis

April, 2013.

Puisi Karya @penakecil -  http://puisioner-amatir.blogspot.com

Telinga


Pasang-pasang mata menghujam
Batang-batang hidung terbentang
Bibir-bibir saling menemukan
Namun tak ada tanda-tanda kedatangan

Ku tebas kerumunan mata, hidung, juga bibir
Tetap saja berakhir getir
Ku sebut nama berulang-ulang
Tetap saja tak ada hirauan

Ternyata telinga harus berperan
Untuk setia menjadi pendengar
Setiap kata-kata dan aksara
Yang terucap dalam diam

Puisi Karya @amaniaghina - http://imaginationoflove.tumblr.com

Menghantuiku

wajah-wajah aneh mulai menghiasi hariku
datang silih berganti menghantui hidupku
entah dosa apa yang telah ku lakukan
tapi ini buatku tak aman
harus segera keluar
sebelum mereka mendekat
dan buat hidupku makin sesak

aku pergi!

Puisi Karya @hatijingga -  http://hujanbulanmei.tumblr.com

Rupa-rupa

1.
Bulir yang terasa asin mengalir hingga dagu
Kerut keningnya menumpuk ragu
kendati tekad sudah menjadi satu.

2.
Lelehan bening yang terkadang jadi penyentuh hati
berderai tak kunjung henti
menilik lipatan koran yang jadi alas di satu lini.

3.
Liur di sudut bibir kecil
pandangan yang tak terkesan jahil
memasung satu waktu gigitan lauk si Centil
Mata lainnya mecicil
beradu pandangan yang menyempil
kala gertakan tawa menganga itu akhirnya mengigil
Seruputan dari sedotan biru
tedengan recehan seribu
jadi penutup kosong lagu.

Puisi Karya @geeograph_ - http://geekazuko.wordpress.com

Gadis Pemilik Gincu Merah

Barangkali kau akan mengingat hari ini, esok dan lusa nanti..
Seorang gadis pemilik gincu merah, memikat siapa saja yang hendak merayunya..
Ia torehkan sepuhan warna terbaik pada tiap lekuk bibirnya..
Bibir itu seperti pintu, tempat seorang keluar masuk..
Satu, dua, tiga orang masuk..
Empat, lima, enam orang keluar..
Sang gadis memasangkan aneka rupa pada mereka..
Rupa-rupa jenaka hingga mengenaskan..

Barangkali kau akan mengingat hari ini, ketika kau pertama kali melihatnya..
Lalu esok saat kau mulai masuk menjelajah seluruh isinya..
Juga lusa nanti mungkin kau akhirnya akan keluar, memberi sebuah kesan dan menerima beberapa pesan..
Barangkali begitulah proses daur ulang cintamu, sayang..

Puisi Karya @warniwarnaku - http://warniwarnaku.tumblr.com

Rupa-rupa Rindu di Sini

entah siapakah yang pantas dirindui — merindu.
sedangkan rindu berlekatan tanda tanya seribu.
seperti kasmaran yang membuatkan seribu asa — burung bangau kertas

wajah-wajah itu kerap berganti
manakah yang rindu?
siapakah yang empunya?
adakah wajah rindu diam-diam
adakah wajah rindu malu-malu

kamu…
siapakah kini di wajahmu — memasang rupa serupa rindu.

aku tetap seraut yang berona merah jambu — di tatapmu yang teduh.

Puisi Karya @_bianglala - http://pelangiaksara.wordpress.com

JIwa yang Tak Waras

Liur di ujung bibirmu itu
adalah tanda betapa bosan kau akan dunia
Hingga kaudiam saja
Mendiamkan aku yang setengah terbuka

Matamu yang memicing itu
adalah tanda betapa takut kau akan cinta
Hingga kaudiam saja
Mendiamkan aku yang setengah terluka

Pakaianku, pikiranku
telah kaulucuti dengan kata-kata
mesra yang membuatku rela kehilangan daya
dan kuasa atas tubuhku sendiri

Akulah gadis berambut merah yang kaugoda
Akulah perempuan berbaju biru yang kausapa
Akulah bermacam-macam wanita yang kausuka

Dan dari semua aku yang kautahu
tak ada satupun yang kaubiarkan terus hidup
dalam tubuhmu, tubuhku

Selamanya
aku hanya perhiasan atas ketidakwarasan
jiwamu

Puisi Karya @ManDewi - http://mandewi.wordpress.com

Tumpah

segala tumpah
wajahwajah
tak tentu arah

semua tumpah
sumpahsumpah
penuh serapah

seluruh tumpah
darahdarah
berwarna merah

hingga kelak tak lagi lumrah
apaapa yang kau anggap mewah
semua sama semuanya murah

sampai nanti tak lagi megah
apaapa yang kau anggap gagah
semua sama semuanya lemah
maka jangan lagi kau resah
semua yang gelap akan cerah
percayalah!
Puisi Karya @poetrazaman -  http://erasson.wordpress.com

Pertimbangan

Senja ini seseorang menghampiriku tanpa ragu
Menempelkan senyum pada wajahnya dengan manja
Kembali lagi di hadapanku setelah lamanya disembunyikan hari

Rinduku telah berpuluh kali lipat dari sebelumnya
Bertambah candu dari waktu ke waktu yang begitu menggoda

Sampai satu persatu pesona lain mulai menyita pandangan
Beberapa pasang mata indah bahkan begitu menarik perhatianku
Mencoba mencari celah untuk masuk lebih dalam

Aku menatap diam-diam wajahnya
Sedihnya, marahnya, bahagianya, senyumnya
Semua seakan sudah begitu lekat di pikiranku

Pertimbangan apa lagi yang harus kupikirkan?
Bukankah ia tetap begitu manis dengan lukanya yang berkali kutanam?

Kebisuan ini tetap saja membelenggu
Menghalangi tiap langkah yang menuju kearahnya
Tapi ia tetap bertahan, memainkan kacamatanya sembari menghapus rindu
Sebenarnya, ia masih menjadi favoritku sejak dua tahun yang lalu

Puisi Karya @aykartika -  http://itsmeaykartika.blogspot.com

Warna Hatiku

Ada rintik dan rinai berselisih
mencipta warna di remang hati
mungkin tak lagi abu-abu
mungkin tak lagi hitam
mungkin tak lagi putih

Ada tawa dan tangis beradu
mengarung melewati kedua pipi
bersama kenangan
bersama rasa
bersama asa

Aku bertanya sekian kali
tidakkah kau hiraukan?
tidakkah kau dengarkan?
duduk menatap seberkas foto itu
foto yang ramah akan senyummu

Aku memahat sebentuk hati
tidakkah kau rasakan?
tidakkah kau dapatkan?
warnanya kini smakin memudar
menghilang di balik selisih rintik dan rinai


Puisi Karya @Susi_SmileKitty - http://luphly-shie.blogspot.com

Hadirmu

Hadirmu selalu aku rasakan

Tanpa harus bertanda aku sudah bisa merasa
Sekilat apapun bayanganmu lewat
Selalu aku rasakan adanya

Hadirmu adalah suatu yang baru
Tapi bukan suatu hal yang semu
Meski aku tak pernah terlihat olehmu
Memandangimu lebih dari cukup untukku

Hadirmu terlihat olehku
Saat kita sama-sama manapaki tempat yang sama
Segemuruh apa keadaan
Aku selalu tau keberadaanmu

Hadirmu selalu membuat mataku berganti pandangan
Untuk melihatmu aku tak pernah mengenal waktu
Dimanapun hadirmu akan selalu ku anggap ada
Karna hadirmu telah mewarnai setiap bagian di hariku


Puisi Karya @aliflifa - http://ceritalif.blogspot.com

Duh!!

Mata hati seakan sulit menilik setiap detik
langkah-langkah mungilmu diantara ilalang
bahkan tak lagi memegang dan merasakan lembutnya awan.
Pun yang ku tahu hanyalah membekap rindu.

Duh!!
Dia sudah diambil pemiliknya
tak jadi milikku lagi yang abadi.
Aku tak bisa membekap hujan bersamanya
Lalu apa aku harus melakukan ini.

Mencoba kembali merasakan lembutnya awan putih
mungkin tanpamu dan tanpa langkah mungilmu lagi.


Medan, 10 April 2013

Puisi Karya @WE_Dewie - http://embunmyinspiration.blogspot.com